George Walker Bush, mantan Gubernur ke-46 negara bagian Texas yang kini menjadi Presiden Amerika Serikat (AS) ke-43, dikenal kontroversial yang kerap melahirkan berbagai invasi dan peprangan di penjuru Dunia. Presiden Venezuela, Hugo Chaves, menjuluki Bush sebagai The Devil (Iblis) yang merasa memliki Dunia dengan Hegemoni dan Imperialisme AS. Pernyataan resmi ini dilontarkan Chaves dalam sidang Umum PBB, September 2006. Subcomandante Marcos, salsah seorang pejuang di dataran Amerika latin dalam buku Kata adalah Senjata, menulis dengan gambling dengan menentang Kapitalisme dan Demokrasi yang didengungkan oleh AS.
Setiap kunjungan delegasi AS ke setiap Negara sebut saja Pakistan dan Iran, di India Bush melakukan pembicaraan dengan agenda melakukan kesepakatan baru yang memungkinkan India menerima teknologi Nuklir sipil Amerika. Di Pakistan, kunjungan Bush juga membawa agenda “menekan” yang memaksa Pakistan untuk ikut serta dalam memerangi “teroris”.
Bagaimana dengan kunjungan Bush Indonesia ke Indonesia? Agenda apa yang bakal diagendakan dalam “deplomasi” kali ini. Pasalnya Popularitas Bush dimata masyarakat AS sendiri sudah merosot pasca kekalahan partainya yang mengusung Partai Republik oleh Partai Demokrat dalam pemilu pertengahan di AS.
Menurut jadwal tentatif, kunjungan Bush dilakukan pada tanggal 20 November 2006, seusai menghadiri pertemuan Forum Kerja sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) di Vietnam, 18-20 November 2006. Agenda Apa yang bakal di tekankan dalam diplomasi terhadap Indonesia?.
Seperti kunjungan dua petinggi AS, yakni Menlu AS Condoleeza Rice, 14-15 Maret 2006, dan Menhan AS Donald Rumsfeld, 6 Juni 2006, sama-sama berupaya meyakinkan Indonesia untuk bergabung dalam Poliferation Security Initiative (PSI), kunjungan Bush juga dapat dimaknai sebagai tindak lanjut pembicaraan masalah PSI.
Kunjungan Bush setidaknya membawa tiga agenda besar. Yakni, “kesepakatan “ terkait penggunaan energi alternatif, dukungan bagi “pesantren cinta damai” binaan AS, dan Reformasi TNI.
“Kesepakatan” Penggunaan Energi Alternatif
Kunjungan Bush menarik dicermati, mengingat sebelumnya Presiden Susilo B Yudhoyono berkunjung ke Cina untuk menjajaki pengembangan sumber energi alternatif pengganti minyak Bumi.dalam kunjungan lima hari di Cina, SBY mengajak Negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Dunia itu untuk berinvestasi di Indonesia, khususnya dalam pengembangan energi seperti Batu bara. Kunjungan Presiden AS, kemungkinan menjanjikan solusi bagi pemanfaatan energi alternativ di Indonesia, atau justru Negara adidaya itu akan menghisap habis seluruh cadangan energi nasional demi mencukupi kebutuhan energinya sendiri ?
Stick And Carrot Pesantren Binaan
Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman asuhan Habib Saggaf bin Mahdi, didirikan 17 Juli 1998 ini pernah mendapat kunjungan Preiden Bank Dunia Pual Wolfowiz awal April 2006. terkait rencana kunjungan Bush ke Pesantren tersebut mensinyalir bahwa pesantren ini akan mendapat kucuran dana dari pemerintah AS. Dana yang dikucurkan melalui USAID ini, salah satu sumber penulis menyebutkan bantuan mencapai 100 juta dolar.
Dengan dana itu, akan diadakan pengkaderan santri yang akan dikirim ke daerah-daerah konflik seperti Poso, diharapkan mereka akan merubah persepsi msyarakat Muslim di sana yang diangap radikal menjadi lebih “moderat”. Hal ini terungkap dari buku The CIA at War yang menguak program membeli ulama dalam menghahadi sentiment dan propaganda anti Amerika di dunia Islam dan Arab.
AS juga melakukan Politik Stick dan Carrot terhadp sejumlahpesantren. Pada tanggal 18-28 September 2002 lalu, Institute for Training and Development (ITD), Lembaga Amerika,mengundang 13 Pesantren ‘pilihan’ di Indonesia dari Sumatera, Jawa, Madura, Kalimantan, dan Sulawesi untuk berkunjung ke AS.
Reformasi TNI
Kunjungan ini jika dirunut ke belakang, sejak awal AS memang berkepentingan terhadap Reformasi TNI. Dalam kunjungannya ke Washington, akhir Mei 2005, SBY berjanji mempercepat reformasi TNI untuk memulihkan hubungan militer kedua Negara yang terputus setelah insiden Santa Cruz di Dili, Timor Timur, 1991.janji SBY ini kembali ditagih ketika Menlu AS Condy berkunjung ke Indonesia pertengahan Maret 2006. didepan forum Indonesia Council of World Affairs (ICWA) di Jakarta, mendesak Indonseia untuk melakukan Upaya yang lebih besar dalam mereformasi TNI.
Tekanan AS terhadap Reformasi TNI itu kini akan ditagih kembali pada saat berkunjung ke Istana Bogor.Bush menginginkan reformasi TNI di semua lini, termasuk mendorong agar anggota TNI mempunyai hak pilih. Setelah TNI melakukan reformasi, Proses reformasi TNI meliputi, pemisahan TNI-Polri, rekontruksi lembaga komando Teritorial, pelimpahan Bisnis TNI-Polri kepada Negara, dan pengakuan supremasi Sipil atas Militer.
Harapan anak Negeri
Dibalik itu semua, Bush dengan Nafsu Besarnya pasti akan berdiplomasi dengan bahasa penekanan atau minimal membuat repot saja yang membuat kita makin terpuruk dalam cengkraman Hegemoni Kapitalisme yang diasung oleh AS. Apalagi kunjungan Bush ke Indonesia memberikan kerugian yang sangat besar bagi Indonesia dan membuat bangsa ini tidak memiliki martabat. Kedatangan Bush juga telah membuat Negara ini yang sedang “Kaya” harus merogeh kantong APBN Miliyaran Rupiah hanya untuk pengamanan Orang nomor satu AS
Sepatutnya Pemerintah RI mempertimbangkan agar tidak berlebihan menerima Bush. Sebab, sangat dimungkinkan hasil kesepakatan nanti tidak diakomodir jika Bush tidak memimpin lagi. Moment kedatangan Bush dapat dimanfaatkan bangsa Indonesia untuk membuktikan bahwa nagara ini bukan “Republik Mimpi” melainkan Negara yang berdaulat dan bermartabat dengan berani menolak kedatangan Bush.